Kebaikan dan Keburukan Sekecil Apa Pun Dibalas Allah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Az-Zalzalah, ayat 7 dan 8 sebagai berikut:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya:
"Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar zaroh pun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebasar
zaroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula."
Zaroh
adalah bagian terkecil dari sesuatu, yang di dalam Ilmu Fisika disebut
atom. Allah SWT menegaskan bahwa tak satu pun perbuatan manusia, meski
sekecil atom, lepas dari perhatian dan pengawasan Allah SWT. Perbuatan
baik, betapapun kecilnya, pasti akan mendapat balasan. Demikian juga
perbuatan jelek pasti akan mendapat balasan. Balasan bisa diterima di
dunia ini, dan bisa pula di akhirat kelak. Bahkan tidak menutup
kemungkinan ada balasan yang tidak hanya di dunia tetapi juga di
akhirat.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari pergaulan sesama
manusia. Dalam pergaulan itu, disadari atau tidak, kita sering melakukan
sesuatu yang jelek, seperti bicara ceplas ceplos tak terkendali dan
menyakiti orang lain. Orang-orang yang memiliki masalah ADHD, misalnya,
biasanya berperilaku impulsif
Perilaku
impulsif ditandai dengan ketidakmampuan atau kegagalan mengendalikan
gejolak hati. Apa kata hati selalu dituruti, padahal dorongan hati tidak
selalu baik. Orang-orang impulsif biasanya sangat emosional. Emosinya
seringkali mengalahkan pikirannya meskipun mereka mungkin orang-orang
yang sangat cerdas. Jika kita termasuk orang seperti ini, kita harus
belajar bagaimana mengendalikan ucapan-ucapan yang tidak baik dan
menyakiti orang lain. Kita harus bicara yang baik karena segala sesuatu
yang baik merupakan sedekah sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah RA sebagai berikut:
كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَ قَةٌ
Artinya: “Setiap kabaikan adalah sedekah.”
Oleh
karena perkataan yang baik termasuk sedekah, maka perkataan itu pasti
akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT. Untuk itu,
orang-orang emosional atau pemarah harus belajar mengendalikan lisannya
agar tidak bicara seenaknya yang dapat merusak hubungan antar personal.
Orang-orang seperti ini biasanya memiliki konflik dengan orang lain. Di
dalam keluarga mereka berkonflik dengan anggota keluarga lainnya,
seperti dengan isteri atau suami, dengan anak atau orang tua, dan dengan
kakak atau adik. Di lingkungan tetangga, mereka juga sering menjadi
masalah. Di tempat bekerja, mereka juga sering cekcok dengan teman-teman
sendiri. Di tempat-tempat ibadah, mereka juga sering membuat ketidak
nyamanan orang lain.
Silaturrahim
bisa terganggu disebabkan oleh perkataan-perkataan yang menyakitkan
dari orang-orang emosional. Orang-orang yang sering kita sakiti baik
dengan sikap maupun ucapan yang emosional pasti mengalami kesulitan
untuk bersaksi bahwa kita orang baik. Padahal kita membutuhkan kesaksian
seperti itu ketika kita telah meninggal dunia, misalnya pada saat
dibacakan mahasinul mayyit kita dalam upacara takziyah atau layatan.
Biasanya, kiai atau ustadz menanyakan kepada pelayat apakah si mayit
orang baik. Bagaimana mungkin mereka yang sering kita sakiti akan
bersaksi tanpa hambatan bahwa kita orang baik kalau setiap hari di masa
hidup kita, kita sering melukai hati mereka? Kalau tokh mereka menjawab
bahwa kita orang baik, mungkin mereka mengatakan hal itu hanya di lisan
saja karena etika memang menuntut demikian. Padahal di dalam hati,
mungkin mereka mengatakan yang sebaliknya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُتْ
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” ( HR Muslim)
Jadi
bicara yang baik itu sangat perlu dan kita harus bisa. Jika tidak,
sebaiknya kita memilih diam. Mengapa demikian? Sebab setiap amal baik,
sekecil apa pun, pasti akan di balas Allah SWT. Perkataan yang baik
tidak saja mendapat pahala dari Allah SWT, tetapi juga secara sosial
menciptakan suasana kondusif yang memungkinkan masyarakat untuk hidup
bersama dengan damai dan tentram. Orang-orang tua kita sering berpesan,
“podho-podho sing ngomong, mbok ngomongo sing apik.” Artinya, sama-sama
mengeluarkan energi, yakni berbicara, bicaralah yang baik. Maka haruslah
kita hindari ucapan-ucapan kotor seperti misuh-misuh, ucapan-ucapan
kasar seperti menghujat atau menghardik sebab kesemuanya itu bisa
menimbulkan ketidak nyamanan bagi orang lain. Ucapan-ucapan seperti itu
pasti akan dicatat malaikat dan kita harus mempertanggung jawabkannya
kelak. Pasti akan ada balasan, yakni siksa dari Allah SWT, sebagaimana
ditegaskan dalam ayat yang di awal telah disampaikan, yakni:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًا يَرَهُ
Artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan keburukan sebasar zaroh, atau sekecil apa pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.”
Hidup
di dunia ini hanyalah sebentar. Maka hendaknya hidup yang sangat
singkat ini kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk menyiapkan bekal yang
sebanyak-banyaknya untuk hidup abadi di akhirat nanti. Barangsiapa yang
bekal akhiratnya sangat banyak, pasti akan hidup bahagia di surga
bersama orang-orang saleh yang di ridhai Allah SWT. Barangsiapa yang
bekal akhiratnya sedikit atau bahkan kurang, pasti akan sengsara di
akhirat. Mereka akan menjadi geladangan yang mondar-mandir kesana kemari
meminta pertolongan. Maka sisa hidup ini marilah kita isi dengan
amal-amal saleh sekecil apa pun kesalehan itu agar kita selamat di dunia
dan akhirat.
Komentar
Posting Komentar